(Lagi) Tentang Bapak

Jika ada do’a-do’a yang tidak terucap, itu pasti darimu, Bapak.

 

Dalam hidup, kasih sayang yang tidak akan pernah habis dan tidak  akan terbatas itu adalah kasih sayang orangtua. Kemaren, hari ini, bahkan esok di saat kita telah memiliki kehidupan dengan keluarga masing-masing, do’a dan kasih sayang orangtua tidak akan pernah putus dipanjatkannya demi kebahagiaan kita.

 

Seperti yang kita ketahui, yang namanya orang tua itu terdiri dari Ibu dan Bapak. Ibu. Begitu banyak kisah manis yang telah kami rangkai bersama-sama. Tidak ada satu katapun, yang bisa menggambarkan begitu hebat dan besarnya jasa-jasa yang telah dia lakukan untuk saya hingga saat ini, saat dimana saya sudah cukup mampu untuk berdiri, jauh darinya. Ibu, disaat saya membuatmu terluka, engkau selalu memaafkan saya dan merangkul saya di bahumu yang kekar itu. Aah Ibu, terima kasih.

 

Kenapa saya menuliskan artikel tentang orangtua ?

 

Karena dua hari terakhir ini saya menonton film lawas “The Day After Tomorrow” dan “Armageddon” . Teman-teman semua mungkin telah menonton film tersebut. *Berarti, kamu baru nonton film itu yah, Ndah? Yah. Saya telat menontonnya saudara-saudara😀.

 

Ada kesamaan dari kedua film tersebut, yakni kisah tentang kasih sayang seorang Bapak kepada Anaknya. Di film The Day After Tomorrow, dikisahkan tentang perjuangan seorang Bapak untuk menyelamatkan putranya dari amukan badai salju yang telah menewaskan hampir sebagian kota. Sang Bapak yang dengan perjuangannya dan kegigihannya akhirnya bisa menunaikan janjinya kepada anaknya untuk menjemputnya dari amukan badai salju yang ganas.

 

Pun begitu di film Armageddon. Pada film ini dikisahkan tentang kasih sayang seorang bapak kepada putrinya. Dikisahkan kalau hubungan antara Sang Bapak dan putrinya tidak begitu harmonis. Namun Sang Bapak begitu menyayangi putrinya hingga dia rela menukar nyawanya dengan tunangan putrinya demi kebahagiaan putrinya.

 

Lantas kamu iri, Ndah ? Ya, mungkin bisa dibilang saya sedikit iri dengan mereka. Saya tidak bisa seperti mereka. Saya juga sering iri ketika membaca kekompakan dan kebahagiaan antara Bapak dan putrinya.

 

Bapak? saya tidak memiliki kisah yang manis dengan beliau. Malahan saya sering nagis dibuatnya. Takdir hidup yang membuat kami terpisah, membuat kami tidak banyak merangkai kisah. Terpisah sejak kecil dan dipertemukan kembali ketika sudah dewasa membuat begitu banyak moment-moment penting yang terlewatkan. Tapi satu hal yang saya yakini bahwa dimanapun dia berada, saya percaya do’anya selalu mengiringi hari-hari saya di setiap harinya.

 

Bapak saya memang tidak seperti Bapak-Bapak yang ada di film tersebut. Tapi kasih sayang dan kekhawatirannya sama dengan mereka. Saya masih ingat betapa khawatirnya dia ketika saya pergi ke Jakarta seorang diri untuk menyelesaikan tugas kantor. Ingin rasanya saat itu dia menghampiri saya, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya dia tidak bisa menghampiri. Alhasil setiap detik itu telpon ber-krang kring. Hampir setiap saya ke Jakarta, kekhawatiran itu terjadi.

 

Pun begitu untuk memilih pasangan hidup. Untuk masalah ini, Bapak saya begitu demokratis. Ketika dia kesini, kami sempat terlibat perbincangan mengenai siapakah pasangan yang akan mendampingi saya nanti. Satu hal pesan Bapak saya yang selalu saya ingat :

“Pernikahan itu kamu yang akan menjalaninya, Nak. Jadi ketika kamu merasa yakin dan mantap dengan pilihanmu, maka jalankanlah. Tapi kamu juga harus berpikir real, tidak hanya mengandalkan cinta semata. Karena pernikahan tidak hanya bicara cinta. Kamu juga harus berkaca dari kegadalan pernikahan saya dan Bundamu. Saya ada di belakangmu dan mendukung apapun pilihanmu!”

 

Kadang, di saat yang lain tidak ada yang mengerti, hanya Bapak yang paling memahami isi hati. Berbicara dengan beliau merupakan hal yang langka bagi saya. Tapi mendengar nasihatnya, begitu menenangkan.

 

Bapak. Untuk kemaren yang terlewatkan, untuk saat ini yang indah, dan untuk esok yang semoga lebih indah, terima kasih. Terima kasih karena telah menjadikan saya pribadi yang seperti ini. Terima kasih atas do’a-do’a tidak terucap, dan terima kasih atas kenakalan-kenakalanmu yang sering membuat saya marah sesaat. Percayalah, ke depannya kita pasti bisa mengukir kisah yang indah, layaknya seorang Bapak dan Putrinya.

 

-Detik-detik jam pulang kantor, 060912-

14 thoughts on “(Lagi) Tentang Bapak

  1. “Pernikahan itu kamu yang akan menjalaninya, Nak. Jadi ketika kamu merasa yakin dan mantap dengan pilihanmu, maka jalankanlah. Tapi kamu juga harus berpikir real, tidak hanya mengandalkan cinta semata. Karena pernikahan tidak hanya bicara cinta. Kamu juga harus berkaca dari kegadalan pernikahan saya dan Bundamu. Saya ada di belakangmu dan mendukung apapun pilihanmu!”

    saya suka ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s