Dilema wanita bekerja

Persembahan terbaik kita seorang wanita adalah mempersembahkan keluarga menjadi yang terdepan yang berjiwa positif dan berkarakter kuat. – Triesna Jero Wacik

Siang tadi selepas shalat jumat saya mengunjungi anak rekan kantor saya yang baru keluar dari Rumah Sakit. Anaknya menderita dehidrasi akibat buang air besar terus menerus. Tapi Alhamdulillah sekarang kondisinya berangsur membaik.

Tadi saya pergi bersama ibu-ibu rumah tangga semua, yang statusnya adalah seorang Ibu pekerja. Sementara istri rekan kantor saya ini tidak bekerja, jadi dia adalah sosok ibu rumah tangga sejati yang hidupnya dia curahkan untuk merawat dan menjaga anak-anaknya.

Jadi ceritanya siang tadi terlibatlah perbincangan antar ibu-ibu seputar suka duka wanita bekerja. Sementara saya yang belum menikah dan belum memiliki anak ini hanya menyimak dan mencatatnya baik-baik dalam otak saya😀. Dari obrolan siang tadi dapat saya simpulkan bahwa.

  1. Seorang ibu mana yang tidak ingin merawat dan mengurus anaknya dengan tangannya sendiri, dengan balutan kasih sayang penuh dari sang ibu. Melihat pertumbuhan sang anak dari setiap hal kecil paling detil perkembangannya hingga dia beranjak dewasa. Menghabiskan momen-momen indah bersama dan menjadi orang nomor satu yang tahu apa-apa tentang sang anak. Semua ibu di dunia ini menginginkan hal itu. Tapi karena pekerjaan, akhirnya kebersamaan bersama anak berkurang. Bahkan terkadang pekerjaan yang belum selesai dikerjakan di kantor,diteruskan kembali ke rumah (setidaknya itulah yang teman-teman wanita saya lakukan). Melihat kenyataan ini, semakin singkat saja waktu yang bisa dihabiskan bersama anak😦. *pray for myself : semoga saya bisa menjadi ibu seperti itu, seorang ibu yang selalu ada di setiap detik tumbuh dan berkembang anaknya :D*
  2.  Dari perbincangan tadi juga dibicarakan tentang ASI (Air Susu Ibu). Berdasarkan arahan Dokter yang merawat anaknya rekan saya, ternyata sampai usia 1,5 tahun sang anak harus diberi ASI eksklusif, karena itu mampu menjaga kekebalan tubuh sang anak dari bibit penyakit. Tapi bagi anak yang orangtuanya memiliki penyakit asma, maka sang anak harus diberikan ASI sampai batas usia maksimal 2 tahun.

Menurut saya pribadi, seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya disini, one day jika calon suami saya menginginkan saya agar berhenti dari bekerja dan fokus mengurus dia dan calon buah hati kami nantinya, baiklah saya akan siap menyanggupinya dengan beberapa syarat pastinya. Karena saya tidak hidup sendiri, dan saya masih memiliki keluarga dan lingkungan sekitar yang harus saya bantu biayai kehidupannya.

Saya menyadari bahwasanya karier kami, kaum wanita yang sesungguhnya adalah mengurus keluarga. Cita-cita terbesar saya pun ingin menjadi sosok yang  berada dibelakang, yang mensuport dan menjadikan suami dan anak saya berada di garis paling depan di percaturan kehidupan.  Aamiin.

Sekali lagi, itu hanya “ingin saya” tapi yang menentukan kedepannya tetaplah ALLAH swt🙂. Sekian tulisan ndak jelas saya mala mini yang sedikit ngawur kemana-mana karena ditulis dengan kekuatan bola mata yang seadanya:D. *dibaca ngantuk:))*

5 thoughts on “Dilema wanita bekerja

  1. mau bekerja atau murni ibu rumah tangga itu pilihan, tapi sejatinya seorang anak lebih senang jika ibunya selalu ada dirumah dan menyambutnya ketika pulang sekolah😀

    #mupeng.com😀

  2. benar mba.
    itu semua adalah pilihan. Tapi jika bisa memilih, pastinya ibu-ibu bekerja pun lebih menginginkan untuk lebih banyak waktu yang dimiliki untuk bersama dengan sang anak.

    Saia juga dah pengenn mba🙂
    ternyata kita samaa*toss😀

  3. kenapa harus memilih??
    kalau memang fitrah dan kewajiban seorang isteri adalah untuk merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya? diluar untuk mensupport suaminya.

    #mungkiiin

  4. Maksud saia kalau bisa memilih antara bekerja atau berhenti dari bekerja dan total mengurus keluarga dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Saia menyadari kalau fitrahnya wanita adalah keluarga, dan saia berusaha untuk tidak lari dari fitrah saia sebagai wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s