Ketika ajal menjemput

Kisah 1 :

Saat ini Negara kita sedang berduka mengenang tragedi kecelakaan yang menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak pada rabu 9 Mei 2012 pekan lalu. Berdasarkan informasi yang didapat, sampai saat ini belum ditemukan adanya awak pesawat dan penumpang yang selamat (tapi saya berharap, semoga ada awak pesawat dan penumpang yang selamat).

Pesawat yang digayang-gayang super cangggih dan super mewah buatan Rusia itu hilang kontak dengan Air Traffic Controller (ATC) Sukarno Hatta ketika sedang melakukan demonstrasi terbang atau joy flight dalam rangka promosi pesawat di langit Jakarta.

Peristiwa kecelakaan tersebut menimbulkan banyak korban jiwa dan meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Tidak ada lagi canda tawa ceria yang bisa dibagi bersama, bahkan untuk jasadnya pun belum tahu bisa ditemukan atau tidak.

Kisah 2 :

Kemaren pagi saya dan teman seruangan melayat ke rumah salah satu orangtua teman kantor saya yang meninggal. Orangtuanya meninggal beriringan. Pada awalnya Bapaknya yang meninggal Sabtu sore, 12 Mei 2012 di salah satu Rumah Sakit swasta yang ada di Bandung. Lalu sehari sesudahnya, tepatnya Senin dinihari, menyusul Ibunya yang meninggal di salah satu Rumah Sakit pemerintah yang ada di Bandung.

Ketika saya melayat, saya berada tepat di atas kepala mayit. Ada rasa tersendiri yang saya rasakan ketika melayat kemaren. Perasaan sedih dan takut lebih tepatnya. Takut, bagaimana jika nanti saya yang berada di posisi sang mayit.

***

Kedua kisah diatas mengisahkan tentang kematian. Yah, mati. Mati adalah suatu hal yang pasti dalam hidup ini. Bahkan sejak lahirpun kita telah divonis mati oleh pencipta kita, ALLAH swt. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan sang waktu akan berhenti  dan menghentikan semua aktivitas kita di bumi.

Kejadian diatas menyadarkan saya betapa hidup dan mati itu bagaikan sehelai benang tipis yang bisa putus kapan saja. Kita sungguh tidak akan tahu kapan ajal itu kan datang. Kematian tidak akan pernah menunggu kita sampai kita siap menghadapNYA.

Yang bisa kita lakukan hanyalah  mengisi hari-hari pada kehidupan kita ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi umat sepeninggal kita kelak. Sehingga kita tidak terlahir dengan sia-sia dan meninggalkan penyesalan di dunia. Marilah kita mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna, karena kita tidak akan pernah tahu kapan ajal itu akan datang dan membawa kita bersamanya.

Mengutip pepatah bijak berkata :

Ketika Kau lahir, dunia tersenyum dan engkau menangis. Jalanilah kehidupanmu sebaik-baik mungkin, sehingga ketika engkau meninggal, engkau tersenyum, dan dunia menangis

10 thoughts on “Ketika ajal menjemput

  1. اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ

    “Ya Alloh, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s