Review Buku Bidadari-Bidadari Syurga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan betapa bagusnya buku ini, maka saya akan bilang : Kerenn, touching banget! Novel yang ditulis dengan alur maju mundur ini begitu menyentuh. Terbukti, air mata saya tak henti-hentinya turun ketika membaca novel ini.

Novel yang dikarang oleh Tere Liye ini bercerita tentang perjuangan seorang kakak (Laisa) untuk adik-adiknya ( Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, Yashinta) agar mereka mampu menempuh pendidikan, meskipun dia harus membanting tulang dibawah teriknya sinar matahari, bangun sedari jam 3 dini hari untuk shalat malam dilanjutkan dengan mengolah gula aren, dan sepulang dari ladang mengenyam tikar. Yah begitulah perjuangannya. Sejak Babak (Ayah) mereka mati, Laisa memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu Mamaknya (Ibu) untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Walaupun mereka itu bukanlah adek kandung Laisa, tapi Laisa sangat menyayangi mereka.

Pada beberapa bagian dalam novel ini, saya berhasil dibuatnya menangis mengingat betapa luar biasa perjuangan yang dilakukan oleh Laisa untuk keempat adek-adeknya. Bahkan dia rela mengorbankan kepentingannya sendiri asalkan adek-adeknya bisa bahagia. Semangat, Disiplin, dan Kerja keras tak henti-henti diteriakkannya kepada adek-adeknya. Dan  terbukti dengan segala kerja keras, diisiplin, dan Semangat yang tinggi tersebut, adek-adeknya berhasil menjadi orang sukses dan mampu membahagiakan Laisa dan Mamak mereka.

Meskipun novel ini hanyalah fiksi semata, tapi berasa seperti kisah nyata dan digambarkan dengan begitu indah. Di setiap bab dalam novel ini mengandung hikmah dan pembelajaran tentang nilai agama, nilai hidup, sukses, kerja keras, disipilin, dan keikhlasan berkorban. Aah intinya teman-teman harus membaca novel ini!*maksa🙂 *

Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata

bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi

cantik jelita. (Ar Rahman: 70). Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan

pertama kali terngiang di langit-langit ruangan: bidadari-bidadari surga, seolah-olah

adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)

 

5 thoughts on “Review Buku Bidadari-Bidadari Syurga

  1. Me too, actually saia juga ga ngefans-ngefans amat sama dia. Tapi saya menyukai karyanya dia😀

    betewe, punya blog juga?

    • yuup..saia juga suka karya2nya..seperti yang kamu tulis “touching banget”..
      blog..??ada sepertinya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s