Untukmu Timnas, Terimakasih

selalu comot paksa dari google :)

 

Kemarin pagi, saya mendengar berita di salah satu TV swasta yang mengatakan kalau kepulangan para pemain Timnas U-21 dari laga pertandingan piala Sultan Hasanal Bolkiah Brunei Darusalam tidak disambut oleh para pendukung dan pengurus PSSI. Dalam berita tersebut juga disampaikan kalau kepulangan mereka tersebut tidak disambut karena kekalahan yang mereka alami.

 

Yah, seperti yang kita semua ketahui, Timnas U-21 kita kalah 2-0 melawan tuan rumah Brunei Darusalam dalam laga final tersebut. Hal yang serupa juga pernah dialami oleh pemain Timnas senior kita yang dikalahkan secara telak oleh Bahrain 10-0 dalam laga kualifikasi piala dunia 2014 yang akan datang.  Kepulangan mereka pun sepi oleh supporter dan tidak disambut oleh pengurus PSSI.

 

Mungkin kenyataannya akan terbalik apabila mereka menang pada saat itu. Pasti kepulangan mereka akan disambut hangat oleh pengurus PSSI dan masyarakat kita. Bandara pasti akan dipenuhi oleh fans fanatik dari masing-masing pemain, dan upacara kalung bunga pun sepertinya akan dilakukan.

 

Tapi apa daya kenyataan berkata lain dan mereka kalah. *Sepertinya kita harus berlatih lebih keras lagi untuk menjadi juara!

 

Yah, begitulah kenyataannya. Ketika mereka jaya, ketika mereka menang dan mengharumkan nama bangsa di mata dunia, mereka akan dipuji-puji, disanjung-sanjung, bahkan kepulangan mereka dipenuhi oleh antusiasme dari masyarakat kita.  Tapi tidak ketika mereka kalah.  Ketika mereka kalah, semua pujian itu hilang, semua sanjungan itu pergi. Bahkan ada sebagian kecil masyarakat kita yang menyalahkan kekalahan mereka*yah begitulah kita, hanya mampu menilai kesalahan orang lain, tanpa pernah melihat sisi baik dan prestasi yang telah mereka capai . Padahal jika mau kita syukuri, sudah mencapak ke babak final pun sudah merupakan prestasi yang luar biasa.

 

Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan itu pasti. Nah jika kita belum menang, berarti kita harus berlatih ekstra keras lagi untuk mencapai kemenangan itu. Kita semua setuju bahwa untuk menjadi juara diperlakukan latihan dan usaha yang keras. Pun jika kita sudah bekerja keras tetapi belum juara juga, sepertinya kita memang belum dipercayakan untuk menjadi juara.

 

Menjadi juara itu perlu mental. Nah jika menerima kekalahan saja kita belum siap, bagaimana kalau sudah menjadi juara nantinya. Menjadi juara itu diawali dengan keikhlasan untuk menerima hal-hal kecil. Sebutlah dari hal menerima kekalahan dan kegagalan. Jika mental kita telah didik sedari awal untuk ikhlas dan menerima kondisi yang kita alami, maka insyaALLAH ke depannya akan dimudahkan sama ALLAH.

 

Tapi jika kenyataan seperti sekarang ini. Dimana ketika kalah saja masyarakat kita langsung luntur semangatnya untuk mendukung Timnas, bagaimana Timnas mau tetap semangat kalau kurangnya dukungan dan semangat dari masyarakatnya sendiri dan lembaga yang menaunginya ??

semoga saja kita semua menjadi suporter yang bijak. Yang selalu ada untuk mereka, mendukung mereka di saat menang dan kalah.

 

Tapi apapun itu, untuk Timnas, engkau akan tetap di hati. Terimakasih atas semua jasa dan pengabdian yang telah kalian berikan bagi bangsa kita yang tercinta ini. semoga ke depannya kalian bisa memberikan persembahan yang terbaik bagi bangsa.

 

 

Ps : Tulisan ini semua berdasarkan subjektifitas saya. Dan saya tidak mengetahui apa-apa tentang bola. Saya menulis tulisan ini hanya untuk mengutarakan apa yg ada di pikiran saya. Dan itulah adanya yang saya pikirkan sekarang. Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s